Arthdal Chronicles (2019) - Drama Review

Greenshe kembali, kali ini bersama Song Joong Ki!
Yeap. Hari ini episode 3 drama ini sudah keluar di myasiantv.to dan aku akan harus me-review dua episode perdana drama baru Song Joong Ki yang berjudul Arthdal Chronicles
Yak, berikut adalah detail drama-nya!


Judul: Arthdal Chronicles / 아스달 연대기
Episode: 18 episode
Director: Kim Won Suk
Writer: Kim Young Hyun, Park Sang Yeon

Wow! Saat mencari informasi tentang detail drama ini, aku menemukan bahwa drama ini terdiri dari 18 episode (bukan! bukan itu hal yang ingin aku sampaikan), dan yang membuatnya berbeda dari drama lain adalah katanya, drama ini akan dibagi menjadi 3 part, dimana masing-masing part terdiri dari 6 episode. Part 1 dan 2 akan tayang bergiliran, sedangkan part 3 akan di tayangkan in the second half of 2019, yang berarti antara bulan Juli-Desember. Pasalnya, pada bulan Juli, drama berjudul Hotel Del Luna akan tayang, mungkin drama ini yang akan mengganti Arthdal untuk sementara. Wah, benar-benar sistem penayangan yang unik dan cukup baru menurutku.

SINOPSIS UMUM

Mengambil latar di daerah fiksi bernama Arthdal saat zaman Kuno, drama ini menceritakan tiga tokoh utama kita, yakni;

Eun Seom (Song Joong Ki) yang terlahir dengan membawa malapetaka untuk Arthdal. Ibunya susah payah untuk menyelamatkan Eun Seom dengan pergi ke daerah bernama Iark. Sesampainya disana, ibunya meninggal, membuat Eun Seom hidup bersama suku Wahan. Dengan berbagai perjuangan, Eun Seom kembali hadir di Arthdal.

Ta-Gon (Jang Dong Gun) adalah panglima perang Arthdal. Dia adalah orang yang paling berjasa dalam membawa Arthdal menjadi negara yang besar dan kuat. Dia memiliki mimpi untuk menjadi raja pertama Arthdal.

Tan-Ya (Kim Ji Won) lahir dengan takdir yang sama dengan Eun Seom. Dia adalah pemimpin suku Wahan, kalau kalian pernah menonton Moana, kurang lebih dia seperti Moana, anak kepala suku yang diharapkan bisa memimpin rakyatnya. Ia berambisi untuk menjadi politikus.

RINGKASAN SPOILER EPISODE 1 & 2

Yang bukan team spoiler, silahkan scroll sampai bagian Review :)

Di awal episode 1, penonton disuguhi dengan adegan seorang ibu yang terkulai lemah sedang bermimpi mengenai seseorang/sesuatu yang memintanya untuk memberikan bayinya yang terbaring di sebelahnya. Selama ia bermimpi, seekor ular putih dengan mata berwarna ungu menghampiri anak itu dan terkesan ingin memakannya. Lalu, adegan berganti menjadi pemandangan pegunungan dan hutan yang disertai dengan narasi:

“In ancient times when mankind came down from the trees, they learned to use fire and began making sharp blades, invented wheels and started paving trails, and finally learned to plant seeds and settled in one place. But they did not have a nation or a king. Homo sapiens didn’t have dreams and had not yet reached the top of the great pyramid of nature. The glorious land of our ancient mothers. This place, Arth.”

  1. Zaman kuno. Berarti masih banyak manusia yang memiliki pikiran kuno atau purba. Belum mengenal atau mungkin baru mengenal hal-hal seperti membuat pedang, menggunakan api, menaiki kuda, dan semacamnya.
  2. Mereka tidak memiliki negara maupun raja. Katanya, drama ini bisa dikatakan sebagai Game of Thrones versi Korea. Dan setelah menonton episode 1, sepertinya memang drama ini akan menceritakan tentang perebutan tahta atau perang antar suku, walau dikatakan bahwa Arth bukanlah milik siapa-siapa, tetapi beberapa klan manusia ada yang memiliki greed dan berkomplot untuk menguasai tanah Arth, dan tanah lainnya, seperti Iark.
  3. Di Arth ada beberapa klan atau suku, yakni Saenyeok Tribe, Hwinsan Tribe, Hae Tribe, Bachidoore, Wahan Tribe dari Iark, dan Neanthal, makhluk yang terlihat seperti manusia, tetapi memiliki darah berwarna biru dan memiliki kekuatan sangat besar layaknya monster.
  4. Homo sapiens aka manusia / saram tidak memiliki mimpi. Awalnya aku berpikir bahwa hal ini berarti manusia saat itu tidak memiliki mimpi, cita-cita, atau keinginan untuk menguasai. Tetapi, setelah menonton episode 1 dan 2, sepertinya hal ini ada kaitannya dengan mimpi yang biasa di alami saat tidur. Pasalnya, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memiliki mimpi. Adapun karakter yang bisa bermimpi adalah Asa Hon ibunya Eun Seom, Eun Seom, dan Tan-Ya, suku Neanthal.




Episode 1 menceritakan mengenai awal terjadinya perang, dimana karakter Ta-Gon masih muda dan memegang peranan penting. Saat itu, Saram atau suku-suku yang terdiri dari manusia biasa, mengajak suku Neanthal untuk berkompromi dan berkoalisi untuk bekerja sama seperti menyatukan daerah dan memindahkan kekuasaan di atas satu Raja. Tetapi suku Neanthal menolak kerjasama tersebut, pasalnya suku Neanthal berpendapat bahwa seharusnya tanah Arth tidak dimiliki oleh siapa-siapa. Suku manusia merasa terancam dengan penolakan kerjasama suku Neanthal, kemudian mereka menyiapkan strategi untuk menghabiskan suku Neanthal. Walaupun suku Neanthal memiliki kekuatan seperti monster, tentu mereka juga memiliki kelemahan, dan Ta-Gon merupakan sosok berjasa bagi suku manusia yang berhasil menghabiskan hampir seluruh suku Neanthal. Suku manusia mengirimkan beberapa hadiah berupa kain yang ternyata merupakan kain bekas kuda yang terkena penyakit atau infeksi yang hanya mempengaruhi hewan dan suku Neanthal. Di saat suku Neanthal lemah, Ta-Gon dan pasukannya menyerang.


Ketika pembantaian terjadi, ketua suku Neanthal, Ragaz, ternyata masih selamat dengan membawa dua orang bayi suku Neanthal di tangannya. Begitu pula Asa Hon, wanita dari suku Hwinsan, yang ternyata digunakan sebagai umpan untuk membawa hadiah beracun itu ke suku Neanthal. Asa Hon yang tidak mengetahui niat buruk suku manusia, merasa bersalah terhadap suku Neanthal dan memilih untuk tetap tinggal bersama suku Neanthal dengan seorang bayi Neanthal di tangannya. Dengan total 3 bayi di tangan Ragaz dan Asa Hon, mereka berdua kabur dan selamat, bahkan sempat menikah dan melahirkan dua anak dengan warna darah ungu yang disebut Igutu, salah satunya adalah Eun Seom, sedangkan saudaranya Eun Seom dibawa oleh Ta-Gon dan belum diketahui siapa sosoknya setelah dewasa. Suku manusia yang masih merasa bahwa suku Neanthal yang selamat adalah ancaman, akhirnya meneruskan perburuan dan perang memperluas wilayah jajahannya.

Apa yang membuat Eun Seom spesial? Dia terlahir saat Azure Comet muncul di langit, yang katanya akan membawa takdir malapetaka untuk Arthdal. Asa Hon bermimpi bahwa Aramun Haesulla, dewa/dewi kepercayaannya, meminta Asa Hon memberikan Eun Seom padanya. Tetapi Asa Hon menolak, lalu Aramun menawarkan apakah ia harus membawa kakaknya Eun Seom? Tetapi Asa Hon tetap menolak, hingga akhirnya Aramun mengatakan bahwa ia akan mengambil ayahnya. Selain itu, Aramun juga mengatakan pada Asa Hon, "Jangan mengikuti orang yang bernyanyi". Siapakah orang yang dimaksud Aramun? Ternyata orang tersebut adalah Ta-Gon. Ketika Ragaz sedang mencari obat bersama kakak Eun Seom, ia bertemu beberapa manusia dan bertarung hingga kehilangan nyawanya. Ta-Gon menemukan kakak Eun Seom di semak-semak, lalu membawa pergi bayi tersebut, padahal anak buahnya mengatakan bahwa Igutu (anak campuran) bisa membawa sial, tetapi anak buahnya malah dibunuhin.

Asa Hon akhirnya pergi menuruni Great Black Cliff untuk ke daerah bernama Iark yang ia pikir tidak tersentuh oleh Asamun Haesulla, sehingga ia dan Eun Seom bisa aman dari ramalan buruk. Tetapi  setelah 10 tahun mencari jalan, sesampainya Asa Hon dan Eun Seom yang sudah agak besar di Iark, Asa Hon mati, dan meminta Eun Seom untuk kembali ke Arthdal kalau luka di tubuhnya sudah memudar apa gimana gitu deh.

Setelah kematian ibunya, Eun Seom akhirnya tumbuh dewasa bersama suku Wahan. Ia berteman dengan Tan-Ya yang lahir di hari yang sama dengan Eun Seom. Mungkin yang membedakan takdir mereka adalah Eun Seom seorang Igutu yang notabene membawa sial, sedangkan Tan-Ya terlahir dengan tanggung jawab sebagai penerus atau pemimpin suku Wahan, kalau kalian pernah menonton Moana, si Tan-Ya agak mirip Moana gitu deh.

Di episode 2, penduduk Iark digambarkan begitu sederhana dan purba. Karakter Eun Seom di antara penduduk Iark terlihat sebagai sosok penemu yang memiliki banyak ide-ide baru, seperti menunggangi kuda, dan menanam bibit. Tetapi masyarakat masih menganggap bahwa ide-ide itu konyol dan tidak masuk akal.

Ada satu prophecy di episode 2 yang perlu ku highlight sepertinya,

“The one who breaks the shell shall appear on the day the Azure Comet appears along with death. And the Wahan Tribe shall no longer be the same”

Ramalan di atas diucapkan oleh ketua suku Wahan di episode 2. Sampai sekarang, di Iark ada 2 anak yang lahir di hari ketika Azure Comet muncul di langit, yakni Eun Seom dan Tan-Ya. Tetapi yang muncul bersama dengan kematian (sampai saat ini) adalah Eun Seom, karena Ragaz mati. Bagian dimana suku Wahan tidak akan lagi sama, mungkin menunjukkan bahwa Eun Seom akan membawa perubahan ke suku Wahan, atau gimana. Karena kemampuan Tan-Ya dalam memperoleh mimpi menghilang setelah Eun Seom hadir di Wahan Tribe.

Suku manusia (Saram) menyerang suku Wahan di Iark. Eun Seom mencoba menyelamatkan tetapi gagal, dan ia pergi bersama kuda yang ternyata adalah keturunan kuda legend Kanmoreu yang kecepatannya tak tertandingi. Membuat beberapa prajurit yang mengejarnya berpikir bahwa Eun Seom adalah Aramun Haesulla. Karena sosok Aramun Haesulla yang mereka kenal adalah seseorang yang  clever, brave, generous, memegang Ionicera flower, dan Kanmoreu si kuda legend. Tetapi awalnya, kuda Kanmoreu ini tidak nurut dengan Eun Seom, dan akhirnya Tan-Ya berbicara dan membujuk kuda tersebut, sehingga Kanmoreu mau ditunggangi Eun Seom. Jadi..... Siapa Aramun Haesulla yang sebenarnya?

REVIEW

Halo? Masih ada yang baca sampai sini? 

Dua episode perdana drama ini memiliki plot yang cukup menarik untukku yang menggemari fantasi. Banyak yang mengatakan bahwa drama ini seperti Game of Thrones versi Korea. Tetapi ada juga beberapa temanku yang menganggap drama ini tidak seperti GoT. Dan menurutku, mungkin secara detail drama ini tidak memiliki kesamaan dengan GoT, tetapi ada beberapa bagian dari konsep drama Arthdal Chronicles yang memang mengingatkanku akan series GoT.

  1. Latar cerita sama-sama dari dunia atau daerah fiksi. Arthdal Chronicles menceritakan  peristiwa yang terjadi di dunia fiksi, Arthdal. Sedangkan Game of Thrones juga menceritakan tentang peristiwa di dunia fiksi bernama Westeros.
  2. Penduduk dunia tersebut dibagi menjadi beberapa suku, tribe, atau klan. Seperti yang sudah kusebutkan, di Arthdal kita bisa menemukan klan atau suku Wahan, Hwinsan, Saenyeok, Neanthal, Hae, dan Bachidoore. Sedangkan Game of Thrones memiliki beberapa family house dan beberapa yang aku ingat adalah Stark, Lannister, Targaryen, Baratheon dan lain sebagainya.
  3. Salah satu suku memiliki bahasa yang berbeda dari suku lainnya. Di Arthdal, suku Neanthal memiliki bahasa sendiri, sedangkan di Game of Thrones juga ada suku yang memiliki bahasa sendiri, yakni suku Dothraki.
  4. Sedangkan dari segi cerita, baik Arthdal dan Game of Thrones sama-sama membahas mengenai per-politikan dan perang. Walau sebenarnya Game of Thrones menceritakan tentang perebutan tahta, sedangkan Arthdal menceritakan tentang pembentukan tahta.  Tapi yah, keduanya menceritakan tentang dampak adanya greed untuk menguasai suatu wilayah secara semena-mena alias dengan perang dan membunuh. Lagipula, drama mengenai perpolitikan sudah tidak asing lagi di drama korea, karena hampir semua historical drama korea membahas politik tentang kerajaannya.
Secara umum, plotnya menarik. Karena unsur fiksi dalam drama ini membuat kemungkinan bahwa banyak hal tidak terduga yang mungkin akan muncul di episode-episode selanjutnya. Aku juga mengharapkan adanya plot twist yang sangat bagus dari drama ini. Selain itu, masih banyak hal yang membuatku penasaran, seperti siapa saudara/ kakak Eun Seom setelah dewasa, pasalnya, ia juga seorang Igutu.

Selain plot, beragam karakter dalam cerita ini juga menarik perhatianku. Khususnya karakter-karakter yang memiliki perbedaan warna darah. Ada darah merah (Saram / manusia), darah biru (Neanthal), dan darah ungu (Igutu). Setiap klan juga sepertinya memiliki karakternya masing-masing, seperti Hwinsan Tribe yang aku rasa memiliki pengetahuan yang cukup baik, sedangkan Saenyeok Tribe yang memiliki kemampuan dalam mengatur taktik dan strategi dalam berperang.

Song Joong Ki, Kim Ji Won, dan Jang Dong Gun sepertinya akan menggambarkan setiap karakternya dengan sangat baik. Aku cukup salut dengan rapper-actor One yang memerankan Ta-Gon remaja. Jujur saja, aku mencoba menonton drama ini karena ada Song Joong Ki, Kim Ji Won, dan Jang Dong Gun, bahkan aku tidak tahu ada One disitu. Aku cukup terkejut dengan kemampuan actingnya yang sepertinya semakin menarik. Melainkan mempromosikan dirinya sebagai seorang rapper, sepertinya ia sedang sibuk menata karir per-aktor-annya.

Setting lokasinya sangat bagus. Aku suka banget karena everything seems so magical. Sangat fiksional. Adegan perang dan bertarungnya tergolong sadis untukku. Tetapi memang setting adegan dan lokasinya tuh membuat suasana dalam drama ini berasa banget purba, brutal, dan magicalnya.

Terhitung sampai episode 2, aku tidak memerhatikan soundtrack maupun background musiknya, tetapi aku cukup enjoy ketika menonton dramanya, dan background musiknya cocok cocok aja, mendukung suasana menegangkan dan magical-nya.

Overall Review

☆☆☆☆
4 bintang untuk dua episode perdana Arthdal Chronicles.
Aku sangat suka drama fantasi, dan drama ini membuatku penasaran akan keberlanjutan ceritanya.
Dan juga, sepertinya ini pilihan drama comeback Song Joong Ki yang lumayannn.

Greenshe Review