Pages

Goodreads Wattpad FB Page Instagram 1 Instagram 2 Twitter Youtube
GREENSHE REVIEWS
  • Home
  • Drama Reviews
  • Movie Reviews
  • Book Reviews
  • Journal
Halo teman-teman! It's weekend!

CGV Aeon Mall JGC
Cr. Greenshe

Di kesempatan kali ini, Greenshe ingin menceritakan pengalaman menonton di CGV Cinemas dengan fasilitas ScreenX 2D dan 4DX 3D. Artikel atau post ini adalah sepenuhnya bersifat subjektif, jadi tidak semua orang akan merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan selama menonton menggunakan fasilitas tersebut. So, here we go..



4DX 3D 
- KITA ADALAH KAMERA -

Pertama kali aku mencoba 4DX adalah ketika perang para Avengers dan komplotan Thanos masuk ke Indonesia di bulan Mei lalu. Sebelumnya, aku sudah menonton Avengers di 3D, bersama beberapa temanku. Tetapi, beberapa hari kemudian, ada salah satu temanku yang berbeda, mengajak nonton Avengers di 4DX ini. Selain karena terdorong oleh cerita Avengers yang menarik perhatianku, mencoba hal baru seperti menonton di 4DX ini juga membuatku mengiyakan ajakannya. Nah, demikianlah pertemuan antara aku dan 4DX terjadi.

Yang aku rasakan selama menonton, it was kinda amazing! Sebenarnya feelingnya hampir serupa dengan menaiki wahana 4D di Dufan, dimana bangkunya dapat bergoyang-goyang dan memiliki efek berupa hembusan angin dan cipratan air. Dan, dibandingkan wahana Dufan, durasi film Avengers sangatlah panjang dan dengan adegan aksi yang tidak sedikit membuat pengalaman menontonku cukup menyenangkan.

Selain bangkunya yang mampu bergoyang-goyang, fasilitas 3D yang ada di 4DX juga membuatku merasa seolah adalah kamera yang merekam film tersebut. Mata kita lah yang merekam film tersebut. Jadi, pengalaman menonton jauh terasa lebih hidup dibandingkan fasilitas biasa seperti 2D dan 3D.

Untuk harga, setiap mall atau lokasi teater, cinema, atau bioskop bisa berbeda-beda. 4DX 3D yang aku coba saat itu adalah yang ada di Mall Of Indonesia, aka MOI. Weekend, 6 May 2018.


SCREENX 2D 
- SPACESHIP BERBENTUK KOTAK -

ScreenX 2D adalah teater cinema yang memang paling beda, jika dibandingkan dengan fasilitas lainnya seperti 2D, 3D, dan 4DX. Yang membuatnya berbeda adalah layar. Normalnya, layar teater itu hanya satu, di depan saja. Tetapi di ScreenX, kita disuguhkan 3 layar, yaitu di depan, kanan, dan kiri, membuatku merasa sedang berada di dalam sebuah ruang, atau wadah seperti kapal luar angkasa.

Apa kalian pernah ke Planetarium Jakarta? Yah, kurang lebih feelingnya sama seperti berada di teater planetarium, hanya saja ini berbentuk kotak.

Aku mencoba ScreenX 2D ini kemarin, Jum'at, 16 November 2018 di Grand Indonesia, karena fasilitas ini memang baru ada di Grand Indonesia. Aku menonton film Fantastic Beast 2: The Crime of Grindelwald. Dan jujur saja, memang awalnya terasa pusing menonton dengan tiga layar, mungkin karena ini adalah yang pertama kali dengan tiga layar. Tetapi, setelah menonton sampai akhir, mataku mulai terbiasa, dan memang ada beberapa part atau adegan yang cucok meong dipakaikan fasilitas ini.

Bagi kalian yang ingin menonton di ScreenX CGV, jangan takut pusing, karena nggak sepanjang film ketiga layar itu menyala. Hanya di beberapa adegan tertentu yang cenderung menunjukkan panorama dalam adegannya.


4DX ATAU SCREENX ?

Secara pribadi, kalau disuruh memilih antara kedua fasilitas itu, Greenshe akan memilih 4DX, karena lebih membuat pengalaman menonton menjadi hidup, dan membuat kita seolah kamera yang merekam prosesi film tersebut.

Adapun beberapa hal yang Greenshe sayangkan dengan ScreenX adalah, tidak 3D, sehingga terkesan memusingkan dan tidak begitu memiliki aksi. Karena, Greenshe merasa menjadi penumpang gelap di sebuah kapal luar angkasa yang invisibly berada di film tersebut. 

Dan, i think it would be much better kalau layarnya sedikit membusur, semacam TV yang melengkung yang lagi nge-tren itu, loh. Tapi karena layarnya berbentuk kotak, bener-bener kotak, terkadang Greenshe kurang nyaman melihat sudut sudut yang kosong ketika ke-tiga layar menyala.

Sekian review singkat Greenshe kali ini. So, kalau kalian disuruh pilih antara 4DX atau ScreenX, what's your choice? Kindly tell me on the comment down below. See ya!
0
Share

Judul       : Love O2O
Genre      : Romance, Fantasi
Kategori  : Dewasa Muda
Penulis    : Gu Man
ISBN       : 978-602-6383-13-6
Tebal       : 434 halaman
Ukuran    : 14 x 20 cm
Terbit       : April 2017
Penerbit   : Penerbit Haru


"ADA BUKUNYA?!"

Yak! Belajar adalah proses dari tidak tahu, menjadi tahu. Awalnya aku nggak tahu sama sekali kalau ada bukunya. Tetapi suatu pagi, sebuah post instagram menyadarkanku mengenai fakta penting ini. Dan ya, Love O2O ada versi bukunya, terlebih ini adalah versi terjemahan Indonesia-nya yang diterbitkan oleh Penerbit Haru. Keren sangat!!

Setelah memberikan review tentang film dan dramanya, kali ini Greenshe akan memberikan review tentang bukunya. Tapi sebelumnya....

Sinopsis Original oleh Penerbit Haru

Semuanya dimulai dari permintaan cerai dari suami virtual Bei Wei Wei di sebuah game online dunia persilatan. Bagi cewek ini, pernikahan di game online, adalah sebuah permainan tidak nyata. Jadi, meski permintaan cerai itu mengejutkan, Wei Wei tidak ambil pusing.

Sialnya, para pemain lain mengira Wei Wei dimakan api cemburu saat melihat mantan suaminya menikahi Xiao Yu Yao Yao---cewek tercantik di game online. Pasalnya, tiba-tiba karakter Wei Wei di game tersebut menyerang pesta pernikahan mantan suaminya.

Saat Wei Wei kebingungan, Yi Xiao Nai He---pemain berlevel tinggi yang dijuluki dewa, tiba-tiba meminta Wei Wei menikahinya. Semua ini hanya permainan, tapi mengapa Wei Wei merasakan sesuatu yang berbeda?


REVIEW

Plot.

Terkadang, buku yang sudah difilmkan atau didramakan membuat para penonton malas untuk membaca bukunya. Bisa jadi karena film atau dramanya sudah sangat bagus dan berakhir tanpa tanda tanya, sehingga membuat penonton menyudahinya. Dan biasanya, aku adalah tipe penonton yang seperti itu.

Anehnya, film dan drama Love O2O sama-sama berakhir tanpa tanda tanya. Yah, intinya mereka berakhir bahagia, tanpa season 2 pun endingnya sudah pas. Walaupun sudah menonton, tidak sedikit pun keinginanku untuk membaca bukunya goyah. Kalau dipikir-pikir, mungkin aku belum siap berpisah dengan karakter Xiao Nai yang begitu sempurna, makanya aku ingin bertemunya dalam buku, hahaha.

Buku ini ku babat habis dalam satu hari setelah kurir ekspedisi mengantarnya ke rumah. Aku katakan satu kali lagi, bahwa versi drama bisa dikatakan 99% persis seperti buku. Dengan tambahan adegan atau epilog di akhir cerita, penikmat cerita Love O2O pasti bersyukur dapat membaca cerita Xiao Nai dan Wei Wei setelah menikah dan memiliki dua anak yang menyerupai kedua orang tuanya, tampan, cantik, dan pintar. Ketika membaca bagian tambahan, Greenshe rasanya ingin mencubit gemas pipi Gu Man, sangking lucu dan manisnya ceritanya, woh.


Karakter.

Setelah membaca versi bukunya, secara sadar ataupun tidak sadar, aku membandingkan visualisasi yang ada di movie dan drama. Dan setelah melalui rasa bimbang yang berkepanjangan, aku lebih memilih visualisasi karakter yang ada di drama. Kenapa? Berikut alasannya,

Bukan karena ganteng atau kurang ganteng. 

Semua orang memiliki pendapatnya masing-masing mengenai ketampanan seseorang. Yah, kalau aku, sih, perlu pikir panjang kalau disuruh memilih antara Yang Yang dan Jing Bo Ran kalau hanya based on wajah. Tapi, ketika membaca bukunya, sosok Yang Yang lah yang muncul di kepalaku ketika membayangkan Xiao Nai dalam buku.

Menurutku, cerita yang simpel dan karakter yang menggambarkan sosok anak kuliahan lebih cocok divisualisasikan oleh Yang Yang dan Zheng Shuang. Karena, postur tubuh Yang Yang dan Zheng Shuang yang terkesan lebih kecil dibandingkan Jing Bo Ran & Angela Baby, lebih pas untuk jadi anak kuliahan.

Bukan berarti Angela Baby dan Jing Bo Ran ketuaan buat jadi anak kuliahan.

Hanya saja menurutku, jika dibandingkan dengan Yang Yang & Zheng Shuang, Angela Baby & Jing Bo Ran memiliki postur yang lebih besar, sehingga lebih terkesan dewasa dan menampakkan aura sexy, hahaha. Sedangkan cerita Love O2O ini cenderung sweet dengan warna soft pink yang mendominasi.


OVERALL REVIEW

Plot : 10/10
Karakter : 9/10

Untuk kalian yang sudah menonton filmnya, lalu menonton dengan dramanya, jangan sungkan! Baca bukunya! Dijamin bisa mengobati rasa kangen kalian sama Xiao Nai! 

Dan untuk kalian para pecinta genre romance yang ringan, langsung babat bukunya dan baca. Iqra Milea... Iqra, haha. 

See you bye bye!
0
Share
A Smile is Beautiful Poster

Director : Lin Yuifen
Penulis : Gu Man, Shen Feixuan, dkk
Rilis : 22 Agustus 2016
Pemeran : Yang Yang, Zheng Shuang
Genre : Romance, Comedy
Episode : 30


"Emangnya drama China ini bagus banget, ya? Selalu ada di bagian rekomendasi di website ini?"
(Greenshe)

Begitulah komentar pertama Greenshe, ketika memulai untuk menonton drama atau film baru. Greenshe dasarnya adalah pecinta Korea, dan sedikit Jepang serta Thailand. Entah kenapa kalau drama China / Mandarin, telinga Greenshe masih tidak bisa terima drama yang di dubbing pakai bahasa mereka, tapi tuh nggak sinkron sama gerakan mulutnya. Ini hanya pendapat pribadi Greenshe, loh.

(Selalu) Awalnya, drama dengan judul A Smile is Beautiful / One Smile is Very Alluring ini tidak menarik perhatian Greenshe, meskipun ada di bagian rekomendasi drama baru. Tetapi, ketika tahu bahwa drama ini adalah versi drama Love O2O yang pernah Greenshe saksikan filmnya, tentu saja jadi super tertarik dengan drama ini. Setidaknya timbul rasa 'ingin menonton' pada saat itu.

(Lagi-lagi) Awalnya, Greenshe menganggap remeh aktor dan aktris versi drama. Apakah Xiao Nai yang di drama lebih ganteng dari Jing Bo Ran, ya? Apakah Wei Wei nya secantik Angela Baby? Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin menurut kalian 'menyebalkan' itu muncul begitu saja di kepala Greenshe. Lantaran ngeri kalau versi drama hanya memanfaatkan ketenaran versi film Love O2O. 

Tetapi, setelah nonton sampai tamat......... BYE WORLD! BYE!

Sinopsis.
Bei Wei Wei dengan userID Luwei Wei Wei, diajakin cerai sama suami dunia game-nya. Alih-alih patah hati, Wei Wei tidak mengambil pusing ajakan cerai itu, dan langsung mengiyakannya, toh mereka hanya menikah untuk menyelesaikan misi dalam game, bukan karena ada ketertarikan pribadi. Namun, baru saja kemarin bercerai, Wei Wei mengetahui bahwa mantan suaminya minta certai karena ingin menikah dengan gamer tercantik di permainan itu.

Ketika Wei Wei dianggap tengah mengacau acara pernikahan-online mantan suaminya, seorang gamer papan atas bernama Yixiao Naihe muncul secara tiba-tiba dan mengajak Wei Wei untuk menikah di game tersebut. Dan siapa sangka, bahwa Yixiao Naihe adalah kakak kelas populer di jurusan yang sama dengan Wei Wei.


REVIEW

Plot.

It's better than the movie! Because they put more detail on the drama!

Yeap! Dari segi plot, drama ini lebih detail dan jauh lebih menyerupai versi novelnya. Kalau dibandingkan dengan plot yang ada di film, konsepnya sama, intinya sama, tetapi detail yang ada di dalam drama membuat Greenshe melihat filmnya seolah sebuah trailer, teaser, atau sekedar sinopsis, bahkan spoiler dari dramanya.


Karakter.

Greenshe suka banget penggambaran karakter Xiao Nai dan Wei Wei yang sangat sempurna. Greenshe tidak dapat memilih mana yang lebih baik, apakah versi film atau versi drama, karena keduanya.. haa... cantik dan ganteng, dan lagipula pasangan di film dan drama sangat cocok.

Yang Yang (Xiao Nai) dan Zheng Shuang (Wei Wei) sangat cocok untuk jadi pasangan di tv drama. Karena postur mereka yang terlihat sama-sama kecil dan lebih anak kuliahan banget, jadi cocok banget. Terlebih lagi, Zheng Shuang adalah pemeran 'Sanchai' di Meteor Garden versi China, aka Meteor Shower, jadi terbukti cantik lah ya. Karena biasanya yang memerankan karakter Sanchai itu harusnya cantik. Sedangkan Yang Yang, ketampanannya yang hakiki benar-benar sempurna untuk Xiao Nai, haha.

Ah, sedikit funfact, sebelum bermain di Love O2O, Jing Bo Ran (Xiao Nai versi film) dan Zheng Shuang (Wei Wei versi drama) pernah menjadi pasangan di drama 'Queen Inhyun's Man' versi China. Terkadang Greenshe membayangkan apa jadinya kalau Xiao Nai dan Wei Wei versi film dan drama bertukar pasangan, haha. Well, kinda impossible, but gak pa-pa lah ya, imaginary casts, haha.


Setting dan Sound

Setting.
Untuk setting dunia game onlinenya, tidak lebih baik dari versi filmnya. Masih ada animasi-animasi yang, well, kurang sedap pas ditonton. Tapi seperti yang sudah pernah Greenshe katakan... Plotnya menutupi itu semua, karena plotnya yang memiliki humor komedi sangat cukup untuk membuat penonton senyum sendiri dan tertawa.

Sedangkan untuk settingan kampus, terlebih ketika Xiao Nai dan Wei Wei memutuskan untuk bertemu offline setelah sekian lama menikah di game, sangat bagus. Bertemu di bawah pohon Willow (kalau gak salah namanya itu), dekat jembatan gitu.. beautiful!

Sound/ Song.
Berhubung ini adalah drama 30 episode, yang setiap episode memutar lagu opening dan ending, tentu Greenshe tidak melewatkannya. Lagu opening dan endingnya sukaaaaa banget! Khususnya endingnya. Karena yang nyanyiin adalah Yang Yang! Xiao Nai kita! Top deh buat musik soundtrack-nya.

Untuk sound, seperti dubbing audio dialog para aktor dan aktrisnya, PAS! Sampai Greenshe nggak paham apakah suara mereka di dubbing lagi atau memang audionya asli gitu. Pokoknya audio sama gerakan bibir sesuai dehhh.


OVERALL REVIEW

Plot : 9.5 / 10 (karena lebih detail dan menyerupai novel dibandingkan filmnya)
Karakter : 9.5 / 10 (karena karakter dalam drama lebih digambarkan secara detail daripada film)
Setting : 7.5 / 10 (mungkin karena ini adalah kelas drama, jadi animasi yang digunakan dalam drama tidak lebih sedap daripada film)
Sound / Song : 8 / 10

Drama ini tentu sangat rekomen bagi kamu yang jatuh cinta sama filmnya. Atau kamu-kamu para pecinta drama yang bosan dengan konflik yang menegangkan dan berat. Setelah menonton film dan dramanya, dengan menambah membaca bukunya, akan menambahkan pula rasa suka kamu terhadap cerita garapan Gu Man ini.

See ya!
0
Share

Love O2O Movie Poster
Director : Zhao Tianyu
Produser : Zhang Yibai
Penulis : Gu Man
Rilis : 12 Agustus 2016
Pemeran : Jing Bo-Ran, Angela Baby
Genre : Romance


"Cintaku Bersemi di Game Online"

Mungkin judul seperti itu yang akan digunakan oleh sinema-sinema siang Indonesia jikalau suatu saat ada yang membuat cerita serupa. Yak, film berjudul Love O2O aka Love Online to Offline ini adalah adaptasi dari novel berjudul sama, karya Gu Man. 

Sinopsis. 

Film ini menceritakan Bei Wei Wei, mahasiswi populer di jurusan komputer, yang diajakin putus sama pacar dunia maya-nya di Game Online RPG yang suka dimainkan oleh Wei Wei. Alih-alih patah hati, Wei Wei tidak mengambil pusing ajakan putus yang dilakukan pacarnya itu dan langsung mengiyakan ajakannya, toh mereka berpacaran hanya untuk menyelesaikan misi-misi dalam game.  Namun kemudian, Wei Wei mengetahui bahwa pacarnya minta putus karena berpacaran dengan gamer paling cantik di permainan itu. Ketika Wei Wei dianggap tengah mengacau acara pernikahan-online mantan pacarnya, seorang gamer papan atas bernama Yixiao Naihe muncul secara tiba-tiba dan mengajak Wei-Wei --yang menggunakan userID, Luwei Wei Wei-- untuk menikah di game tersebut. 

Bayangkan ada orang asing yang melamarmu dalam sebuah game, atau seseorang mengirim permintaan status di facebook padamu. Dalam dunia nyata, tentu itu mengerikan, bisa jadi modus kejahatan. Apalagi kalau kamu tidak memilah siapa temanmu di facebook. Tapi dalam dunia entertainment, semuanya dikemas untuk menghibur pemirsa dari jenuhnya dunia nyata. Itulah yang dilakukan Gu Man dalam cerita Love O2O ini. Hanya mengangkat problem kecil, dan menambahinya dengan bumbu romansa dan komedi, ta-daaaaa jadilah cerita ini. 

Greenshe akan mengulas film, drama, dan novelnya secara terpisah. Siapa yang belum nonton film, drama, atau belum baca bukunya? Berhati-hatilah, karena akan ada beberapa spoiler dalam review ini. Shuu shuu..


REVIEW

Plot.

Love O2O ini memiliki konsep cerita yang sangat ringan, hanya kisah cinta seputar anak kuliahan. Tidak ada sang antagonis, apalagi derai air mata. Yang ada hanyalah senyum dan tawa. Siapa sangka perihal pacaran dalam game online bisa dijadikan cerita yang menarik? Ini yang membuatku terkesan dengan Love O2O. Konsep cerita yang terkesan fresh dan unik ini sangat bisa menghibur pemirsa yang menontonnya. Bumbu komedi yang disesapkan ke dalam film juga unik.

Awalnya, Greenshe tidak tertarik dengan film ini, namun (seperti biasa) poster film ini selalu ada di bagian Film Rekomendasi di situs nonton drama dan film favorit Greenshe. Dan yah, berhubung tidak ada tanggungan drama atau film yang harus di download dan di tonton saat itu, Greenshe iseng-iseng menonton film ini. Dan rupanya, ceritanya sungguh menarik dan Greenshe sampai terpukau dengan ketampanan Xiao Nai yang diperankan oleh Jing Bo Ran.

Selain itu, bagi penggemar berat acara variety show Korea, Running Man, tentu nggak asing sama Angela Baby yang merupakan member Running Man versi China. RM Korea dan China beberapa kali membuat episode khusus, dimana keduanya bermain. Nah, karena Greenshe sedikit familiar dengan Angela Baby, jadi bisa dikatakan Greenshe menonton film ini karena Angela Baby juga.


Karakter.

Angela Baby dan Jing Bo Ran bukanlah aktris dan aktor pendatang baru di China. Aku sudah sering melihat film dan drama mereka. Dan keduanya memang dapat dikatakan termasuk aktris dan aktor andalan di China, sehingga kemampuan actingnya nggak diragukan lagi lah yaa.

Angela Baby sangat baik menggambarkan karakter Wei Wei yang cool! namun terkadang bersikap bodoh hingga bisa membuat penonton merasa malu, haha. Jing Bo Ran juga sangat baik menggambarkan karakter Xiao Nai yang super ganteng, keren dan tak banyak berekspresi.


Setting dan Sound Effect.

Setting : Awalnya, Greenshe agak kurang nyaman sama penggambaran dunia game online dalam film ini. Tapi semakin lama ditonton, yaaaa lumayan. Dan overall, semuanya tertutup dengan cerita yang super duper menghibur.

Song : Greenshe sejujurnya nggak begitu merhatiin ada lagunya atau nggak bahkan. Sangking senangnya dengan plot yang menyenangkan seperti ini, jadi Greenshe ngga punya banyak hal yang bisa dikomen buat lagunya. Cocok cocok aja kayaknya, soalnya aku masih bisa enjoy nontonnya.


OVERALL REVIEW

Plot : 9 / 10 (karena cerita ini tipe Greenshe banget)
Karakter : 9 / 10 (Xiao Nai ganteng banget soalnya, hahaha)
Setting : 8 / 10 
Sound : 7 / 10 (deguchi, soalnya gak begitu fokus ke musik dan suara)


Film ini rekomen BANGET, buat kalian pecinta drama dan film romance yang sudah lelah nonton film dan drama yang punya konflik berat dan bikin perasaan galau. Jaminan bakal senyum senyum geli pas nonton film ini. Film ini ringan, tapi menghibur.

Film ini juga memiliki versi Drama dan Buku nya. Selanjutnya, Greenshe akan mengulik Dramanya. Tapi bagi pemula, silahkan nonton Filmnya dulu, karena menurut Greenshe, film ini seperti trailer untuk dramanya. Sedangkan bukunya lebih detail dari dramanya. Jadi, nonton filmnya dulu saja~

See ya!
0
Share
Ant-Man and The Wasp
Sutradara : Peyton Reed
Perusahaan Produksi : Marvel Studios
Distributor : Walt Disney Motion Pictures Group
Rilis : 4 Juli 2018 (Indonesia)
Pemeran : Evangeline Lilly, Paul Rudd, Hannah John-Kamen, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer


Spoiler Alert! Review ini mengandung beberapa spoiler yang mungkin tidak kalian sukai. Jadi, berhati-hatilah!


Halo teman-teman, kali ini Greenshe akan mereview film Ant-Man and The Wasp yang belum lama ini Greenshe saksikan di bioskop. Siapapun yang sudah menonton Avengers: Infinity Wars yang bulan Maret lalu menggebyarkan bioskop-bioskop tanah air, tentu ada beberapa dari kalian yang penasaran akan ketidakhadiran beberapa superhero, khususnya manusia semut kita, Ant-Man.

Banyak meme yang bertebaran mengenai betapa mudahnya Thanos dikalahkan jika ada Ant-Man, haha. Nah, dalam film baru superhero Marvel ini, Ant-Man and The Wasp menjelaskan apa yang dilakukan Scott Lang dan kawan-kawan hingga melewatkan penampilan spektakuler Thanos dan Avengers beberapa bulan lalu.

REVIEW

Plot.

Dalam sequel ini, Scott tengah menjalani hukumannya sebagai tahanan rumah karena memihak pada Captain America dalam film Captain America: Civil War. Padahal masa tahanannya akan berakhir tak lama lagi, namun setelah ia mendapatkan visi mengenai istri Hank Pym yang menghilang dalam Quantum Realm (silahkan tonton film Ant-Man yang pertama), Hank Pym beserta anaknya, Hope Van Dyne, mengajak Scott Lang bekerjasama untuk mengeluarkan istri Hank Pym dari Quantum Realm, pasalnya pada film pertama Ant-Man, Scott berhasil kembali dengan selamat dari Quantum Realm itu, membuat Hank Pym dan Hope memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menyelamatkan istri dan ibunya.

Untuk melancarkan aksinya, Hank dan Hope menciptakan mesin yang untuk menyempurnakannya membutuhkan suatu alat penting gitu (lupa namanya apa). Namun, untuk mendapatkan alat penting itu ternyata tidak mudah. Selain harus bersembunyi dari FBI, mereka harus berhadapan dengan Ghost yang ternyata juga mengincar alat, mesin, bahkan lab milik Hank Pym.

Jika menilai plot cerita secara individu, plot yang disuguhkan dalam Ant-Man and The Wasp cenderung biasa saja jika dibandingkan dengan Ant-Man pertama, apalagi jika dibandingkan ke-epic-an Infinity Wars kemarin. Plot cerita lebih menceritakan masalah keluarga Hank dan Hope, selain itu, kemunculan Hope sebagai The Wasp yang keren banget, membuat karakter Scott sebagai Ant-Man agak overshadowed. Jadi, kalau saja The Wasp memiliki film sendiri pasti tidak buruk.

Jika melihat plot cerita secara kelompok, yaitu dengan melihat kronologi film Marvel Cinematic Universe, film Ant-Man and The Wasp ini cukup membuat para pengabdi Infinity Wars dapat bernapas agak lega setelah superhero favorit mereka jadi abu, hing... Doctor Strange.

Selain menjelaskan alasan Scott absen di Infinity Wars, film ini juga menandakan bahwa waktu menuju Avengers 4 tidak lama lagi, hanya hitungan bulan. Yah, masih tahun depan sih, tapi setidaknya list film yang muncul di antara Avengers 3 dan 4 ini semakin menyusut. Greenshe bahkan nggak sabar dengan debut Captain Marvel yang kabarnya akan dirilis tahun depan.

Karakter.

Menurut Greenshe, karakter yang menonjol dalam film ini adalah The Wasp dan Ghost. Kedua karakter tersebut belum pernah menunjukkan kekuatan mereka di film manapun, sehingga penampilan perdana mereka dalam film ini membuat karakter Ant-Man sedikit tergeser. Terlebih dengan plot yang lebih berfokus pada The Wasp.

Tapi, adegan yang berkesan bagi Greenshe adalah adegan Scott Lang ketika pikirannya dirasuki oleh Janet Van Dyne, membuatnya bertingkah seperti perempuan dan istri dari seorang Hank Pym. Banyak adegan-adegan komedik yang mampu memancing tawa para penonton. Dan untuk divisi komedi dalam film ini, Greenshe mengacungi jempol untuk Scott Lang dan sahabatnya, Luis. Bahkan Greenshe tak menyangka bahwa kalimat “Baba Yaga” yang sering disebut-sebut oleh karakter bernama Kurt dalam film ini memiliki nilai humor yang lumayan bagus.

Setting dan Sound Effect

Hmm.. Untuk film ini, Greenshe tidak begitu memfokuskan review pada setting dan sound effect. Namun, untuk Greenshe yang awam akan teknologi animasi seperti ini, setting animation dalam film ini sangat keren. Khususnya untuk adegan perkelahian The Wasp, Ghost, dan Ant-Man. Kenyataan bahwa Hank Pym menciptakan alat yang mampu mengubah ukuran benda apapun jadi kecil dan besar itu menakjubkan. Bahkan gedung Labnya pun dapat disulap jadi seukuran koper. Mau koleksi mobil? Hank Pym bisa menyulap mobil hotwheels milikmu jadi seukuran mobil biasa. Sedangkan untuk sound effect atau musik, Greenshe tidak merasa ada sesuatu yang spesial. Namun begitu, Greenshe tetap bisa merasa enjoy nontonnya.

OVERALL REVIEW

Plot = 7.5/10
Karakter = 7.5/10
Setting = 8/10
Sound Effect = 7/10
Film ini rekomen bagi kalian yang mengikuti film seri Marvel Cinematic Universe. Ah! Perihal post-credit, atau tayangan setelah credit dalam Ant-Man and The Wasp, cukup mengejutkan bahwa Ant-Man tertinggal di Quantum Realm karena Hope, Hank, dan Janet jadi abu ketika sedang mengawasi Scott dalam Quantum Realm. Sebenarnya ada dua post-credit dalam film ini, tapi menurutku yang kedua agak sedikit.... hmm... Tonton sendiri deh! See ya on next review!
0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me

Welcome to my little corner! I’m Lia, someone who finds joy in stories, whether through novels, dramas, movies, or my own writings. With a Green Tea Latte in hand, I explore different narratives and share my thoughts here. Expect reviews, reflections, and a mix of personal musings. Most of my posts are in Bahasa Indonesia, but occasionally you’ll find entries in English or even a bit of Korean! Stay tuned, and let's dive into stories together!

Old Reviews

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  Desember 2025 (2)
      • #RamblingAbout Stressful Social Media
      • #RamblingAbout The World Is Scary Even Without Me ...
    • ►  Agustus 2025 (1)
    • ►  Mei 2025 (1)
  • ►  2023 (3)
    • ►  September 2023 (2)
    • ►  Agustus 2023 (1)
  • ►  2022 (8)
    • ►  November 2022 (1)
    • ►  September 2022 (4)
    • ►  Juli 2022 (1)
    • ►  Mei 2022 (1)
    • ►  April 2022 (1)
  • ►  2021 (23)
    • ►  November 2021 (7)
    • ►  Oktober 2021 (1)
    • ►  Mei 2021 (5)
    • ►  April 2021 (1)
    • ►  Maret 2021 (9)
  • ►  2020 (23)
    • ►  November 2020 (4)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (3)
    • ►  Juli 2020 (3)
    • ►  Juni 2020 (6)
    • ►  April 2020 (1)
    • ►  Maret 2020 (5)
  • ►  2019 (43)
    • ►  Desember 2019 (3)
    • ►  November 2019 (4)
    • ►  Oktober 2019 (5)
    • ►  September 2019 (5)
    • ►  Agustus 2019 (6)
    • ►  Juni 2019 (4)
    • ►  Mei 2019 (3)
    • ►  April 2019 (1)
    • ►  Maret 2019 (6)
    • ►  Februari 2019 (3)
    • ►  Januari 2019 (3)
  • ►  2018 (8)
    • ►  November 2018 (2)
    • ►  Agustus 2018 (2)
    • ►  Juli 2018 (4)

Cari Blog Ini

Youtube

Translate Here!

Iklan Sejenak

LINK

  • KOREA.NET INDONESIA
  • KOREA.NET ENGLISH
Copyright © 2015 GREENSHE REVIEWS

Created By ThemeXpose